Senin, 07 Januari 2013

Contoh Teks Narasi



KUMPULAN NARASI
TENTANG
SELAMANYA KAU TETAP BUAH HATI KU



 





KARYA
Yossi Pratiwi
NIM  40211117
PGSD 3/3


SEKOLAH TINGGI ILMU KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
STKIP ISLAM BUMIAYU
TAHUN AJARAN 2012/2013


SELAMANYA KAU TETAP BUAH HATI KU
Disuatu tempat terdapat keluarga sangat harmonis yaitu keluarga Bapak Aris. Yang terdiri dari Bapak Aris, Ibu Aris, dan kedua anak mereka bernama Mura dan Bening. Mura adalah anak pertama dari keluarga Bapak Aris. Ia telah berusia 17 tahun dan duduk dibangku SMA. Sedangkan Bening adalah anak kedua dari keluarga Bapak Aris. Ia gadis yang sangat cantik dan anggun. Ia baru berusia 13 tahun dan baru duduk di bangku SMP. Keluarga Bapak Aris merupakan keluarga yang utuh yang dipenuhi oleh kedamaian dan ketentraman dalam jiwa keluarga itu. Namun, pada suatu ketika keharmonisan keluarga Bapak Aris mulai pudar bahkan hampir hilang berawal dari perceraian pernikahan antara Bapak Aris dan ibu Aris. Pada tanggal 16 Juni 2009 mereka resmi bercerai yang merupakan akhir dari perjalanan pernikahan mereka. Namun, sejak itu pula mulailah terjadi ketidakharmonisan antara anak dan orang tua. Bapak aris setelah resmi bercerai dengan ibu aris, ia pergi dari rumah yang biasa mereka tempati. Dan bapak Arispun memulai kehidupan baru tanpa keluarga yang ia cintai.
Keesokan harinya, Mura dan Bening mengetahui bahwa kedua orang tuanya bercerai. Mereka amat terpukul mengetahui tentang perceraian kedua orang tua mereka. Kesedihan yang mereka rasakan, di luapkan melalui tindakan yang tak biasa mereka lakukan sebelumnya. Mura yang biasanya rajin ke sekolah setelah kejadian itu Mura mulai enggan untuk sekolah. Dia berangkat ke sekolah bukanlah niat untuk menambah ilmu namun hanya untuk meluapkan amarah dan kesedihannya dengan membuat keonaran di sekolah, seperti bertengkar dengan teman sekelas, membuat adik kelas tertekan dengan segala ancaman yang ia lakukan bahkan sampai menjahili gurunya sendiri. Berbeda dengan Bening, Bening adalah seorang anak cewek yang cerdas, pintar, kreatif, dan periang. Sehingga Bening di sekolah mempunyai banyak teman dan di senangi oleh teman-teman dan guru-guru di sekolah Namun, setelah kedua orangnya bercerai bening jadi pendiam dan selalu berwajah muram, serta lebih banyak diam. Situasi dan kondisi yang dialami keluarga mereka membuat keadaan mereka berubah 100% dari sebelumnya.
Hari demi hari Mura dan Bening lalui dengan perasaan kacau balau. Dengan kenakalan yang dilakukan Mura di sekolah membuat penghuni sekolah seperti siswa dan guru merasa risih dan tidak nyaman karena kenakalan Mura semakin tak terkendali. Dan Mura nyaris dikeluarkan dari sekolah. Pada siang itu, Ibu Mura di panggil Kepala Sekolah untuk membicarakan tentang Mura, serta melakukan upaya agar Mura tidak membuat onar di sekolah. Ibu Mura sangat terpukul melihat anak laki-lakinya yang gagah dan pintar berubah menjadi sosok pria yang bertindak senantiasa melawan hukum. Pada malam harinya Ibu Mura bertanya kepada Mura, tentang apa penyebab Mura berubah dan Mura dengan nada sinis menjawab “ apa peduli ibu dengan apa yang aku lakukan, aku melakukan tindakan bodoh karena ibu dan bapak, terus kenapa sekarang ibu menyalahkan aku, semua terjadi berawal dari perceraian ibu dan bapak”. Setelah mendengar ungkapkan dari anaknya seperti itu ibu Nahla menangis hatinya sakit melebihi sakit teriris pedang. Ibu nahla tak kuasa melihat perilaku Mura dan ungkapan Mura sehingga Ia menangis dan merasa berdosa atas semua yang terjadi.
Hari demi hari Ibu Nahla menjalani ketidakharmonisan keluarganya, namun ibu Nahla tetap tegar menghadapinya. Ia tetap berusaha berikhtiar mencari uang untuk sesuap nasi dan kebutuhan lainnya untuk kebahagiaan kedua buah hatinya. Ia bekerja disuatu perusahaan di ibu kota. Pagi berangkat dan pulangnya hamper setiap hari larut malam. Sehingga ia tidak dapat menghimbau perkembangan kedua buahn hatinya secara intensif. Ia hanya menitipkan kepada seorang pembantunya untuk melayani dan mnghimbau segala aktifitas kedua buah hatinya.
Dengan melihat ibunya pergi pagi-pagi dan pulang larut malam membuat Mura semakin kesal terhadap situasi yang terjadi, ia beranggapan bahwa ibunya sudah tak memperdulikan dirinya lagi. Sehingga ia melakukan hal-hal diluar batas normal bagi seorang pelajar. Setiap malam ia ngetrack mobil dengan teman-temannya, minum-minuman keras, dan tumbuh jadi seorang playboy.  Ibu nya hampir tidak mengetahui perilaku Mura menyimpang secara cepat dan tak terkendalikan. Melihat kakaknya yang berubah Bening sedih. Ia berusaha menyadarkan kakaknya agar tidak melakukan hal yang melangga hukum namun Mura tetap tak memperdulikan perkataannya.
Suatu ketika bening mulai mengalami sakit-sakitan yang tidak seperti biasanya. Dan Bening sering pingsan di sekolah. Pada hari kamis siang pukul 10.00 WIB ibu Tuti (seorang pembantu keluarga ibu Nahla) mengantarkan Bening berobat ke rumah sakit. Ketika diperiksa oleh dokter dengan berbagai gejala-gejala yang terlihat dokter memberitahukan kepada ibu Tuti bahwa Bening terkena penyakit jantung. Ibu tuti tak kuasa menahan sedihnya melihat majikannya yang cantik dan baik harus mengalami penyakit yang mematikan. Ibu Tuti bingung mau mengungkapkan apa ketika Bening menanyakan penyakitnya apa. Karena takut Bening stress mengetahui penyakitnya akhirnya Ibu Tuti merahasiakan kepada Bening tentang penyakitnya. Dan ibu Tuti mengatakan kepada Bening bahwa Bening baik-baik saja cuman terlalu cape saja. 
Keesokan harinya Bening sudah mulai kecanduan obat, ketika dia tidak minum obat dari resep dokter penyakitnya kambuh, ketika itu pula Bening mulai memikirkan apa yang selama ini terjadi pada dirinya sehingga ia tidak dapat beraktifitas jika tidak minum obat dari resep dokter. Hari itu juga Bening mengambil resep-resep yang ada dan menanyakan kepada petugas opoteker yang kebetulan terdapat dokter yang sedang praktek disana. Bening kaget dan bingung ketika ia tahu bahwa penyakit yang derita adalah jantung.  Suatu ketika ketika obatnya habis Bening tidak mau minum obat itu karena ia tahu bahwa penyakitnya tetap bisa merenggut nyawanya, obat dianggap tidak bisa menyembuhkn penyakitnya hanya menghilangkan rasa nyeri hanya sekejap saja. Ibu Tuti berusaha membujuk Bening untuk meinum obat agar penyakitnya sembuh, namun Bening malah mengunkapkan “ Bi, saya tidak mau minum obat buat apa saya minum obat toh saya tetap akan mati dalam waktu singkat”. Ibu Tuti menangis karena melihat Bening telah putus asa mengahadi penyakitnya. Setelah itu Bening memohon kepada Bu Tuti agar tidak menceritakan penyakitnya kepada ibunya, karena Bening tidak mau membuat ibunya semakin pusing karena harus memikitkan penyakitnya.
Dengan gejala-gejala yang ia rasakan antara lain sesak napas (dada terasa seperti “diinjak gajah”), mual, muntah, jantung berdebar, berkeringat, dan gelisah telah mengantarkan Bening mengalami penyakitnya yang mulai parah, dan dokter menyarankan ke Bening dan Ibu Tuti jika Bening ingin selamat Bening harus mendapatkan donor jantung. Setelah mereka keluar dari ruangan dokter mereka bingung apa yang harus mereka lakukan. Namun, Bening pesimis. Ia beranggapan bahwa sebentar lagi ia akan mati, karena tidak mungkin ada seseorang yang ikhlas mendonorkan jantungnya untuk orang lain.
Dengan sisa waktu yang sedikit Bening berusaha untuk membuat keluarganya utuh kembali. Dengan membujuk ayahnya untuk kembali ke rumah, dan menyadarkan kakaknya untuk kembali seperti dulu. Namun, Bening tidak mendapatkan apa-apa dari usahanya menyatrukan keluarganya kembali. Pada malam harinya Bening merenung memikirkan penyakitnya dan kondisi keluarganya yang kacau balau. Dan Bening menuliskan segala hal yang tejadi pada buku diarynya. Pada saat itu juga Bening tubuhnya drop dan pingsan di taman belakang rumahnya. Ibu Nahla setelah pulang kerja ia melihat gadis perempuannya tergeletak di taman. Ia berlari dengan nada histeris melihat anaknya. Kemudian ia bersama pembantunya Ibu Tuti langsung membawa Bening ke rumah sakit. Setelah diperiksa oleh dokter ternyata Bening harus mendapatkan perawatan yang intensif dan khusus, dan dokter membicarakn kepada Ibu Nahla tantang penyakit yang diderita oleh anaknya. Setelah ibu Nahla tahu bahwa anaknya terkena penyakit jantung yang sudah parah ibu Nahla hanya bisa menangis dan menyesal karena tidak menghimbau anaknya dengan baik.
Keesokan harinya ibu Nahla berusaha dengan optimal dan dibantu oleh teman-temannya untuk mencarikan donor jantung untuk anaknya dengan uang berapapun ibu Nahla siap untuk menukarkan donor jantung. Namun, tidak membuahkan hasil apapun. Tetapi, keadaan hari demi hari penyakit anaknya parah.
Pada malam itu juga, ibu Nahla semakin pusing dan sedih ketika mendengar anak nya Mura kecelakaan dalam perlombaan balap mobil. Ia semakin sedih ketika harus mendengar dari dokter akibat kecelakaan, Mura harus mengalami kebutaan pada matanya. Ibu Nhla mencoba membuat anaknya tegar dalam menghadapi cobaan namun Mura tidak bisa menerima atas apa yang terjadi pada dirinya, ia scok berat.
Ibu Nahla semakin pusing, sedih dan bingung apa yang ahrus ia lakukan untuk menolong kedua anaknya agar buah hatinya bisa bahagia seperti biasanya tanpa panyakit yang mereka alami. Dokter mengingatkan Ibu Nahla agar segera mendapatkan donor jantung untuk Bening, jika tidak bening tidak akan bisa selamat. Keadaan seperti itu membuat Ibu Nahla terjepit oleh keadaan, dan ia memutuskan untuk mendonorkan jantungnya untuk Bening dan matanya untuk Mura. Ia melakukan itu untuk kebahagiaan kedua buah hatinya, ia tidak sanggup melihat kedua anaknya menderita, Mura buta, dan Bening berbaring tak berdaya melawan penyakitnya di rumah sakit bahkan Bening di fonis jika tidak mendapatkan donor jantung segera Bening tidak akan selamat. Hal itu membuat ibu Nahla semakin yakin dan pasrah untuk berkorban demi kebahagiaan buah hatinya yang ia cintai selama ini.
Keesokan harinya Ibu Nahla berkomunikasi dengan dokter dan siap mendonorkan jantung dan matanya untuk kedua anaknya. Dokter yang menangani kedua anaknya menangis, dan terharu melihat ibu Nahla berkorban nyawa nya demi buah hatinya. Pada saat itu juga ibu Nahla mengurus administrasi untuk melakukan operasi. Setelah itu Ibu Nahla mengajak Ibu Tuti pulang ke rumah untuk mempersiakan operasi besok.
Keesokan harinya dengan cuaca yang cerah pula seakan langit mengetahui pengorbanan sang ibu kepada anaknya, langit menjawab dengan warna yang cerah. Dan pada pagi itu juga sebelum berangkat ke rumah sakit untuk melakukan operasi ibu Nahla menitipkan sepucuk surat kepada Ibu Tuti untuk kedua buah hatinya. Yang isinya adalah :
“ Mura dan Bening sayang, bagaimana keadaanmu sekarang. Sudah lebih baik kah dari sebelumnya? Ibu sangat senang kalian bisa hidup normal seperti biasanya. Maaf jika selama ini ibu belum bisa menjadi sosok orang tua yang baik, ketahuilah perceraian ibu dan bapak itu sudah suratan takdir, dan kita harus bisa tegar menerimanya. Ibu sangat menyayangi kalian, cinta ibu tidak akan pernah pudar. Mura dan Bening tidak boleh sedih ibu akan tetap ada dihati kalian. Salah satu organ ibu melekat bersama organ tubuh kalian. Ibu berharap Mura dan Bening bisa jadi anak yang soleh dan solekha, jadi anak yang berguna bagi keluarga dan masyarakat. Kejarlah cita-cita kalian. Dan ibu mohon jangan benci bapak mu karena bagaimanapun Bapak adalah orang tua kandung kalian. Doa ibu akan selalu menyertaimu anak ku. Mura dan Bening tetap anak ibu dan bapak. Ibu sangat menyayangi kalian”.
Pukul 09.30 WIB operasi dilakukan oleh team media dengan kedua pasien Mura dan Bening. 2 jam kemudian operasi selesai dilakukan. Setelah Mura dan Bening sadar mereka begitu senang dan bahagia terbukti dari raut wajahnya yang tersenyum membukau. Ibu Tuti juga merasakan kebahagiaan melihat majikannya tumbuh normal seperti manusia biasanya, namun disisi lain Ibu Tuti bingung ketika Bening menanyakan Ibunya kemana. Bening ingin menunjukkan bahwa dia sudah sembuh. Beberapa menit kemudian Mura mengunjungi kamar Bening, Mura pun menunjukkan kepada Bening bahwa ia sekarang bisa melihat lagi. Setelah Mura dan Bening berbincang-bincang tentang kebahgiaan yang mereka alami pada saat itu, Ibu Tuti memberanikan diri untk menyampaikan amanat dari Ibu Nahla yaitu sepucuk surat untuk kedua buah hatinya.
Setelah Mura dan Bening membaca isi surat dari Ibunya mereka tak kuasa menahan kesedihan, air matanya mengalir membasahi pipinya. Mereka tidak bisa mengungkapkan kata-kata apapun, mereka hanya bisa mengungkapkan dengan tangisan. Mura begitu sangat menyesal dahulu ia sering menyakiti hati ibunya, membuat ibunya menangis dan terluka oleh tingkah lakunya. Bening pun juga sama selama ini ia merasa hanya bisa membuat Ibunya pusing dengan keadaannya pada waktu itu. Mura dan Bening pada saat itu menanyakan kepada Ibu Tuti ibunya dimakamkan dimana. Mereka memohon kepada Ibu Tuti untuk mengantarkan mereka ke makam ibunya.
Setelah tiba disana hati mereka hancur seketika melihat pengorbanan yang sangat besar dari seorang ibu namun mereka merasa tidak bisa membahagiakan ibunya pada saat ibunya masih hidup. Tak terhitung berapa tetes berlinangnya air mata penyesalan pada benak mereka. Namun, Ibu Tuti selaku bagian dari rumah dan keluarga Ibu Nahla mencoba membujuk kedua majikannya untuk tegar menghadapinya. Kemudian mereka pulang dan membuka lembaran baru dengan mengemban amanat dari ibunya. Mura yang dahulunya melakukan perbuatan yang sanantiasa melawan hukum, namun pada saat itu juga ia berubah lebih baik lagi bahkan ia lulus dengan nilai tinggi dan terbaik serta ia mendapatkan beasiswa kuliah di Amerika. Begitu juga Bening ia menjadi sosoknya yang ceria, aktif, dan mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Sehingga ia lulus SMP dengan nilai terbaik di sekolahnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar