Sabtu, 05 Januari 2013

ARTIKEL TENTANG UNSUR-UNSUR PEMBANGUN KARYA SASTRA



ARTIKEL
TENTANG
UNSUR-UNSUR PEMBANGUN KARYA SASTRA



 









Disusun oleh :
Yossi Pratiwi
PGSD 3/3


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
STKIP ISLAM BUMIAYU
TAHUN 2012/2013





Unsur-Unsur Pembangunan Karya Sastra
A.    Pengantar
Materi unsur-unsur pembangunan karya sastra merupakan salah satu materi yang sangat berguna bagi kita karena di dalamnya membicarakan tentang struktur karya sastra sebagai sebuah karya fisik yang tentu saja terdiri atas beberapa hal yang harus saling berkaitan. Struktur pembangunan karya fisik tersebut terdiri atas (1) struktur luar atau yang dikenal dengan ekstrinsik, dan (2) struktur dalam atau yang lebihh populer disebut sebagai struktur instrinsik.
Struktur luar adalah segala macam unsure yang berada di luar karya sastra, tetapi kehadirannya sangat mempengaruhi cerita yang disajikan, misalnya faktor sosial politik, ekonomi dan kepengarangan, serta tata nilai yang dianut suatu masyarakat. Sementara itu, yang dimaksud dengan struktur dalam adalah unsur-unsur yang membentuk karya sastra itu sendiri, baik pada prosa, puisi, maupun drama.
Kedua struktur tersebut, baik struktur luar maupun struktur dalam, seperti penulis sebutkan tadi, merupakan unsur atau bagian yang secara fungsional saling berkaitan. Artinya, tidak ada satu unsur yang lebih penting kehadirannya dibandingkan dengan unsur lain atau tidak ada unsur yang kehadirannya hanya sebagai pelengkap saja. Satu hal yang mesti kita pahami adalah bahwa struktur yang ada dalam karya sastra haruslah dipandang dari satu sudut pandang tertentu. Struktur ekstrinsik , misalnya dianggap sebagai bagian dari struktur yang membangun sebuah karya fiksi bila struktur tersebut kita anggap mampu memberikan pengaruh terhadap keseluruhan struktur fiksi tersebut, terutama jika sebuah karya sastra yang sedang kita bahas dianggap sebagai mimesis atau cermin kehidupan. Dengan kata lain, struktur ekstrinsik dapat dibicarakan ketika memang sedang dikaitkan dengan karya sastra tertentu. Cerita pendek (cerpen) Robohnya Suami Kami, misalnya memiliki peran moral yang tinggi yang dilatarbelakangi falsafah hidup pengarangnya, yakni A.A Navis yang memang sangat religious. Selain itu, cerpen tersebut juga sangat kental dengan sosiokulutural Minangkabau yang menjadi latar belakang ceritanya.
Struktur ekstrinsik ini pada dasarnya merupakan pembahasan terhadap segi-segi yang menyangkut segala aspek kehidupan yang ditampilkan dalam karya sastra, pembahsannya pun akan terbatas pada struktur karya sastra secara umum. Hal ini berbeda dengan unsur instrinsik yang karena sifatnya berada dalam suatu karya sastra, pembahsannya dapat dilakukan secara lebih khusus. Untuk lebih jelasnya, pembahasan berikut ini akan menyajikan unsure-unsur pembangunan karya sastra yang berasal dari dalam karya sastra itu sendiri.

B.     Unsur Intrinsik Prosa
Sebuah karya sastra berbentuk prosa dapat berupa novel, roman, novelet, cerpen dan beberapa istilah lain, yang pasti berisi sebuah cerita tentang kehidupan, khusus untuk anak-anak biasa dikelompokkan ke dalam cerita anak-anak. Sebuah karya prosa dibangun oleh unsure-unsur yang saling mendukung, yaitu tokoh, tema, alur, latar, gaya, dan pusat pengisahan. Secara garis besar, berikut ini adalah uraian tentang unsur-unsur karya prosa.

1.      Tokoh
Tokoh penokohan dan perwatakan merupakan salah satu hal yang kehadirannya amat penting. Bahkan, sangat menentukan. Bukankah tidak mungkin sebuah karya fiksi hadir tanpa adanya tokoh cerita atau tanpa adanya tokoh yang bergerak dari awal hingga akhir cerita. Selain itu, keduanya juga merupakan satu struktur yang padu. Gambaran tentang seorang tokoh dengan segenap perilakunya tentu saja sekaligus menguraikan tentang gambaran perwatakannya. Novel Salah Asuhan karya Abdul Muis, misalnya tidak ada berarti apa-apa kalau di dalamnya tidak ada Corie, seorang gadis indo dan Hanafi, laki-laki pribumi yang terlalu kebarat-baratan.
Cara menghadirkan perwatakan dan penokohan ini dapat dilakukan pengarang dengan dua cara, yakni penggambaran secara analitik dan dramatic. Maksud dari penggambaran secara analitik adalah penggambaran langsung yang dilakukan seorang pengarang tentang watak atau karakter tokoh. Pengarang dapat menyebut bahwa tokoh tersebut, seperti keras kepala, setia, penyabar, emosional, religius atau lainnya. Sementara itu, yang dimaksud dengan penggambaran secara dramatik adalah penggambaran perwatakan yang tidak dilakukan secara langsung oleh pengarang, misalnya melalui pilihan nama atau tokoh, penggambaran fisik atau postur tubuh, dan melalui dialog. Untuk lebih jelasnya, perhatikan dua kutipan berikut ini
a.       Lasi tetap tertunduk. Ingatannya melayang pada suatu malam ketika ia di dalam kamar bersama Handarbeni. Malam yang menjengkelkan. Handarbeni benar-benar kehilangan kelelakiannya meski obat-obatan telah diminumnya. Untuk menutupi kekecewaan Lasi, akibat kegagalan semacam biasanya Handarbeni mengobral janji ini itu dan keesokan harinya semuanya akan beres. Tetapi malam itu Handarbeni tak memberi janji apa pun kecuali tawaran yang membuat Lasi merasa terpojok, bahkan terhina[1].
b.      “ Ya, Las. Kamu memang diperlukan Pak Ha terutama untuk pajangan dan gengsi, “kata Bu Lanting suatu kali ketika Lasi berkunjung ke rumahnya di Cikini. “Atau barangkali untuk menjaga citra kejantanannya di depan para sahabat dan relasi. Ya, bagaimanapun juga suamimu itu seorang direktur perusahaan besar. Lalu apakah kau tidak bisa menerimanya?” [2]
Kedua kutipan tersebut sama-sama menceritakan karakter Handarbeni yang memperistrikan Lasi hanya sebagai gengsi. Ia adalah lelaki impoten yang mengambil Lasi sebagai istrinya semata-mata hanya ingin menjaga citra kejantanan di hadapan koleganya saja. Nah, kita tentu dapat menebak kutipat manakah yang termasuk dalam penggambaran secara analiti, bukan? Atau sebaliknya, kutipan manakah yang digambarkan oleh Tohari sebagai pengarang Bekisar Merah sebagai penggambaran secara dramatik. Ya kutipan (1) merupakan contoh penggambaran secara analtik karena dengan sarana Lasi, Tohari langsung menyebut kelemahan Handarbeni, sedangkan kutipan (2) merupakan contoh penggambaran secara dramatic karena kelemahan Handarbeni dapat diperoleh melalui percakapan antara Bu Lanting dengan Lasi.
Dapatlah dijelaskan bahwa seorang tokoh cerita biasanya mengembang suatu perwatakan tertentu yang diberi bentuk dan isi oleh pengarang, seperti juga halnya dengan tokoh Handarbeni. Perwatakan dapat diperoleh dengan membari gambaran mengenai tindak tanduk, ucapan atau sejalan tidaknya antara pikiran dan perbuatan yang dilakukan si tokoh. Suatu karakter harus ditampilkan dalam satu pertalian yang kuat sehingga dapat membentuk kesatuan kesan dan pengertian tentang personalitas individualnya. Dalam konteks tokoh Handarbeni, pengarang sengaja menampilkannya dengan konteks yang saling melengkapi. Handarbeni memiliki kelebihan material yang sangat baik sehingga mampu menempatkan Lasi sebagai pajangan hidup karena sebenarnya ia telah kehilangan kelakiannya.

2.      Tema
Menemukan tema sebuah karya sastra harus dimulai dengan ditemukannya kejelasan tentang tokoh dan perwatakannya serta situasi dan alur cerita yang ada. Tentu saja, terlebih dahulu kita harus menjawab apakah motivasi tokoh, apakah problem yang dialaminya sangat berat, dan bagaimana si tokoh mengatasi problem yang dihadapinya? Dengan kata lain, tema atau sering juga dusebut gagasan sentral yang mejadi dasar cerita dapat pula kita identifikasi melalui konflik sentral yang terjadi. Dalam konteks yang lain, temapun dapat ditelusuri melalui beberapa variabel, yakni (a) apa yang membuat suatu karangan tampak berharga?, dan (b) mengapa pengarang menulis cerita tersebut? Bagaimankah cara menjawabnya? Tentu saja kita harus membaca cerita secara cermat, bagian demi bagian, tidak melomat-lompat dan jangan kita berharap dapat menemukan tema hanya dengan membaca ringkasannya.

3.      Alur
Alur merupakan salah satu unsur penting dalam sebuah cerita. Dalam bahasa yang paling sederhana, rangkaian peristiwa yang terjadi dalam sebuah cerita dan dialami tokoh-tokohnya dianamakan alur. Definisi yang lain juga menyebutkan bahwa alur atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai sebuah inter-relasi fungsional yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa alur merupakan perpaduan unsur-unsur yang membangun cerita.
Baik tidaknya sebuah alur ditemukan oleh beberapa hal, yakni (a) Apakah tiap peristiwa susul menyusul secara logis dan alamiah? (b) Apakah setiap peristiwa sudah cukup tergambar atau dimatangkan dalam peristiwa sebelumnya?, serta (c) Apakah peristiwa yang diceritakan terjadi secara kebetulan atau dengan alasan yang masuk akal dan dapat dipahami kehadirannya?
Pada umumnya, alur cerita rekaan terdiri atas empat hal, yakni (a) alur buka, (b) alur tengah, (c) alur puncak, dan (d) alur tutup. Alur buka merupakan bagian awal cerita ketika situasi mulai terbentang sebagai suatu kondisi permulaan yang akan dilanjutkan dengan kondisi berikutnya. Alur tengah merupakan paparan cerita ketika kondisi mulai bergerak ke arah kondisi yang memulai memuncak. Alur puncak merupakan paparan cerita ketika kondisi mulai titik puncak sebagai klimaks peristiwa. Alur tutup merupakan akhir cerita ketika kondisi yang memuncak mulai menampakkan pemecahan atau penyelesaian. Untuk mengkonkretkan pemahaman kita, paragraph berikut dapat kita jadikan contoh untuk mengenali lebih jauhkeepat alur tersebut.
Alur buka ditandai dengan pendeskripsian kehidupan rumah tangga antara Lasi dengan Darsa yang digambrakan bahagia. Darsa pekerja keras dan Lasi adalah seorang gadis cantik yang sangat setia kepada suaminya. Satu kelemahan yang tampak pada kehidupan mereka adalah belum adanya anak sebagai simbol kelengkapan rumah tangga. Alur tengah ditandai suatu ketika Lasi harus menemukan kenyataan bahwa suaminya menjadi tidak memiliki kelelakian lagi akibat terbanting dari pohon kelapayang sedang disadapnya. Pengobatan secara medis pun akhirnya dihentikan karena Darsa tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan dan cara yang ditempuh keluarga Lasi adalah mempercayakan kepada Bunek, dukun pijat kampung untuk menangani penyakit Darsa. Alur punck ditandai dengan adanya kenyataan bahwa Darsa menghamili Sipah, anak Bunek. Lasi sam sekali tidak dapat menerima kenyataan ini hingga akhirnya ia “terdampar” di kota metropolitan Jakarta hingga akhirnya ia menemukan kehidupannya yang ganjil sebagai seorang wanita peliharaan belaka. Alur tutup ditandai dengan hadirnya tokoh Kanjat yang diakui atau tidak sedikit memberikan pencerahan kepada Lasi yang dalam kondisi psikolog tidak stabil akibat perkawinannya yang ganjil. Kanjatlah yang menjadikan Lasi kembali bergairah walaupun pada akhirnya pengarang tidak memberikan penyelesaian yang tuntas terhadap cerita ini. [3]
Dalam contoh tersebut tampak jelas bahwa gerakan alur dimulai dengan tanda Tanya di benak pembaca, kemudian bergerak memancing keingintahuan, harapan, dan mungkin kecemasan. Dalam perjalanan peristiwa Bekisar Merah, pembaca mulai bertanda tanya ketika Darsa ternyata menghamili Sipah. Apakah yang terjadi pada Lasi? Apakah ia akan menerima anak Darsa sebagai anaknya, atau lainnya. Dan akhirnya ditemukan jawaban dalam peristiwa lainnya, yakni ketika Lasi ikut penumpang truk Pardi dan Sapon ke kota Jakarta. Akhirnya, rasa penasaran pembaca pun terpenuhi dan ada jawaban.

4.      Latar atau Landas Tumpu
Yang dimaksud dengan latar atau landasa tumpu adalah lingkungan tempat peristiwa terjadi yang bentuknya dapat bermacam-macam, mungkin kampus, pedesaan, perkotaan, nama kota, nama daerah, dan nama negara, serta segala tempat yang dapat diamati dengan panca indra kita, misalnya suasan pasar malam. Biasanya latar ini muncul pada semua bagian cerita, yakni latar social dan latar fiksi. Latar social meliputi penggambaran keadaan masyarakat, kelompok-kelompok social, seperti sikap, adat istiadat, cara hidup dan bahasa yang digunakan. Sementara itu, yang disebut latar fisik adalah tempat dala wujud fisiknya, yaitu segala sesuatu yang membangun daerah tertentu.

5.      Gaya Penceritaan
Gaya penceritaan adalah tingkah laku pengarang dalam menggunakan bahasa agar menimbulkan efek-efek atau penekanan tertentu. Tingkah laku berbahasa ini merupakan salah satu sarana sastra yang amat penting. Tanpa bahasa, tanpa gaya bahasa, sastra tidak ada. Kita tentu ingat bahwa karya sastra pada dasarnya merupakan salah satu kegiatan pengarang dalam membahasakan sesuatu kepada orang lain.
Dalam setiap kali bertutur, khususnya tuturan tulis (bukan lisan), si pengarang selalu berupaya untuk mempengaruhi pembacanya. Berbagai usaha dan tindakan perlu dilakukan agar pembaca dapat tertarik sehingga dapat menyerap gagasan yang ingin disampaikannya. Berbagai usaha dan tindakan tersebut dapat dilakukan dengan (a) pemilihan materi bahasa, (b) pemakaian ulasan, dan (c) pemanfaatna gaya bertutur, yang di dalamnyatermasuk kiasan atau perlambangan.
a.    Pemilihan materi bahasa
Maksud dari pemilihan materi bahasa adalah segala upaya yang dilakukan seorang pengarang dalam menyeleksi perbendaharaan bahasanya agar gagasan yang akan disampaikannya dapat diterima dengan baik oleh para pembacanya. Dari sejumlah perbendaharaan bahasa yang dimiliki pengarang untuk menyatakan perilaku tertentu, dipilihlah salah satu yang menurutnya sangat mewakili pikiran dan gagasannya. Sebagai contoh, novel Para Priyayi karya Umar Kayam, tampaknya akan mudah dibaca oleh pembaca yang tahu pasti tentang bahasa Jawa. Penggunaan bahasa Jawa oleh Umar Kayam ini tentu memiliki makna tersendiri karena latar cerita yang diangkat adalah budaya masyarakat Jawa dengan segenap pengkelasan bahasanya.
b.    Pemakaian ulasan
Maksud dari pemakaian ulasan adalah segala upaya pengarang untuk lebih menekankan gagasan yang disampaikannya melalui ulasan-ulasan sehingga dapat diterima pembaca dengan amat baik dan benar-benar sesuai dengan harapan pengarang. Ulasan yang diberikan, anatara lain dapat berupa pemberian contoh-contoh, perbandingan-perbandingan. Cara penyampaian ulasan ini tentu saja berbeda-beda antara pengarang satu dengan lainnya. Pengarang-pengarang Balai Pustaka, misalnya termasuk dalam pengarang yang senang memberikan nasihat berpanjang-panjang tentang moral kepada pembacanya. Sementara itu, pengarang-pengarang perempuan, seperti Ayu Utami, lebih condong menyisipkan ulasannya tentang kesamaan hak laki-laki dan perempuan dalam percakapan tokoh-tokohnya. Kedua karakter kepengarangan ini memang berbeda, tetapi tujuan yang ingin disampaikan adalah sama, yakni memberikan penekanan kepada gagasan yang melatarbelakangi karya yang dihasilkannya.
c.    Pemanfaatan gaya bertutur
Dalam setiap karya sastra, maslah gaya penyampaian sering disebut dengan gaya bahasa. Hal inilah, salah satunya yang membedakan karakteristik seorang pengarang dengan pengarang lainnya. Dengan kata lain, gaya penyampaian ini amat menentukan visi kepengarangan seorang sastrawan. Seorang pengarang dikatakan sangat melankolis, misalnya manakala pembaca menemukan fakta bahwa karya-karya sastra yang dihasilkannya selalu romantis dan penuh dengan rangkaian kata yang amatindah. Sebaliknya, hubungan antar kata yang maknanya penuh dengan tanda Tanya besar lagi pembacanya, tentu akan mengiring pembaca pada penyebutan bahawa pengarang adalah seorang sastrawan dengan gaya absurd atau terus terang.

6.      Pusat Pengisahan
Pusat pengisahan adalah posisi dan penempatan diri pengarang dalam ceritanya atau dari mana seorang pengarang melihat peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam ceritanya itu. Dari titik pandangan pengarang inilah pembaca mengikuti jalannya cerita dan memahami temannya.
Pusat pengisahan dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, seperti (a) pengarang sebagai tokoh cerita, (b) pengarang sebagai tokoh sampingan, (c) pengarang sebagai orang ketiga, dan (d) pengarang sebagai pemain atau narator.
a.    Pengarang sebagai tokoh cerita
Pengarang sebagai tokoh cerita bercerita tentang keseluruhan kejadian atau peristiwa, khususnya yang menyangkut diri tokoh. Tokoh utama sebagai pemapar cerita pada umumnya memiliki kesepakatan yang luas untuk menguraikan dan menjelaskan tentang dirinya, tentang perasaan dari pikirannya, tetapi tidak banyak yang diketahui atau dapat diceritakannya tentang peristiwa yang berlangsung pada tempat lain di saat pelaku sendiri tidak berada disana. Oleh karena itu, tipe cerita dengan sudut pandang pengarang sebagai tokoh cerita lebih banyak digunakan pengarang dalam novel-novel psikologi. Pada umunya, pengarang langsung menggunakan tokoh “aku” untuk mewakili gagasannya.
b.    Pengarang sebagai tokoh sampingan
Orang yang bercerita dalam pusat pengisahan jenis ini adalah seorang tokoh sampingan yang menceritakan peristiwa lain secara bertalian, khususnya dengan tokoh utamanya. Sesekali peristiwa yang disampaikan juga menyangkut tentang dirinya sebagai pencerita. Yang harus kita bedakan dengan pusat pengisahan pengarang sebagai tokoh cerita yang pertama tadi, dalam pusat pengisahan ini sapaan “aku” juga digunakan, tetapi ia juga menggunakan orang ketiga yang mengamati peristiwa dari jauh tentang tokoh utama yang sedang diceritakan.


c.     Pengarang sebagai orang ketiga
Pengarang sebagai orang ketiga yang berada diluar cerita bertindak sebagai pengamat sekaligus sebagai narator yang menjelaskan peristiwa yang berlangsung serta suasana dan pikiran para pelaku cerita. Pusat pengisahan ini pada dasarnya dapat dibagi dalam dua jenis. Pertama, pengarang hanya mengamati satu pelak saja, biasanya tokoh utama, kemudian baru mencari hubungannya dengan tokoh lain. Kedua, pengarang bertindak sebagai pengamat yang sama sekali netral dan menggambarkan semua karakter pelaku yang ada dalam cerita.
d.      Pengarang sebagai pemain atau narator
Pusat pengisahan ini menempatkan seorang pemain yang bertindak sebagai pelaku utama cerita, dan sekaligus sebagai narator yang menceritakan orang lain selain tentang dirinya. Suatu ketika ia terlibat dalam cerita, tetapi pada saat yang lain ia pun berlaku sebagai seorang pengamat yang berada di luar cerita.  
Berdasarkan paparan keempat jenis pusat pengisahan tersebut, dapat diperoleh simpulan bahwa pada dasarnya, pusat pengisahan tersebut hanya memiliki dua jenis, yakni pencerita yang ikut bermain dan pencerita yang tidak ikut bermain. Keduanya tentu ada kelebihan dan kelemahannya. Yang jelas, jika pencerita menempatkan diri sebagai pengamat, tentu dapat leluasa dalam menceritakan segaka hal yang terjadi dan dapat menceritakan segenap watak tokoh dengan serempak.

C.    Unsur Intrinsik Puisi
Tidak seperti pada prosa, unsure-unsur intrinsic pada puisi relative lebih sedikit. Hal ini disebabkan karena hakikat puisi adalah karya sastra yang padat makna dan memiliki sifat seni yang dominan.
Berdasarkan hakikat puisi tersebut maka unsur yang terpenting dalam puisi adalah adanya unsur estetis atau unsur keindahan dan unsur arti atau makna. Kedua unsur tersebut diberi istilah unsur estetik bunyi dan unsur estetik satuan atau arti. Secara singakat uraiannya adalah sebagai berikut : 
1.    Unsur-unsur Estetik Bunyi
Unsur-unsur estetik bunyi terdiri atas persajakan, kiasan bunyi, dan orkestrasi. Unsur-unsur tersebut saling berjalinan untuk memperoleh ekspresivitas secara intensif. Bahkan, unsur-unsur keputusan bunyi berjalinan erat dengan unsur-unsur satuan arti untuk mendapatkan nilai seni atau nilai estetik sebanyak-banyaknya. Akan tetapi, dalam uraian ini pembahasan keduanya kita pisahkan.
a.    Persajakan
Sajak adalah ulangan bunyi, baik berupa aliterasi maupun asonan. Sajak bisa terdapat pada awal, tengah, dan akhir periode atau baris. Pada puisi lama ada pola-pola sajak tertentu yang mengikat, terutama pola sajak akhir. Perhatikan persajakan pantun/puisi berikut ini.

Berakit rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Setiap baris diawali dengan persamaan bunyi : Be-Be-Ber-Ber. Sajak tengah terdapat persamaan bunyi it pada baris kesatu dan ketiga, persamaan bunyi ang pada baris kedua dan keempat. Demikian pula akhir baris ada persamaan bunyi ke dan an.
b.    Orkestrasi
Orkestrasi adalah bunyi musik pada puisi, kombinasi satuan-satuan estetika bunyi, aliterasi dan asonansi di awal, tengah, dan akhir. Contoh :
Bulan Terang
Sunyi lengang alam terbentang
Udara jernih sejuk tenang
Di langit mengerlip ribuan bintang
Bulan memancar caya senang[4]

Unsur orkestrasi yaitu pada kata : lengang, terbentang, tenang, di langit, mengerlip.

2.    Unsur-unsur Estetik Satuan Arti
Unsur-unsur ini berupa kata, frase, dan kalimat yang dipilih dan disusun untuk mendapatkan nilai estetik. Dalam proses penciptaan puisi, penyair sering kali mengganti kata-kata untuk mendapatkan pilihan yang tepat. Pilihan yang tepat harus sesuai dengan unsur bunyi, unsur arti, suasana, tempat terjadinya peristiwa, dan konsep keindahan. Perhatikan contoh berikut
Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dulu[5]

Frase habis kikis sebenarnyadapat diganti dengan habis larut, namun tidak terdapat persamaan bunyi pada frase habis larut. Demikian pula dengan frase hilang terbang yang memiliki arti dengan frase hilang musnah.









DAFTAR PUSTAKA

Hj.Yusi Rosdiana, dkk. “Bahasa dan Sastra Indonesia di SD”. Penerbit : Universitas Terbuka


[1](Bekisar Merah, 1993 : 267-268)
[2] (Bekisar Merah, 1993 : 266)
[3] Dala novel Bekisar Merah karya Akhmad Tohari 1993
[4] Karya J.E Tatengken
[5] Karya Hamzah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar