Sabtu, 05 Januari 2013

ARTIKEL TENTANG KONSEP BAHASA


1.      PENGERTIAN BAHASA

Teknik Informasi pada era globalisasi menjadi prioritas utama pembangunan di semua negara-negara maju. Dengan kata lain, semua Negara yang ingin maju harus menguasai teknologi informasi. Apabila tidak maka Negara tersebut akan tertinggal jauh dari Negara lain dalam segala bidang. Teknologi informasi telah menjadi barometer maju mundurnya suatu negara pada masa ini.
Istilah bahasa sering digunakan dalam berbagai wacana. Istilah ini dikenal oleh masyarakat pemakai bahasa dalam berbagai konteks.
Perhatikan Penggunaan istilah bahasa dalam kalimat berikut ini:
1.    Tunjukkanlah budi bahasa yang baik di manapun Anda berada.
2.    Disini negeri beradat jangan sampai kita dinilai tak tahu bahasa.
3.    Jangan menyelesaikan masalah dengan bahasa militer.
4.    Hati-hatilah berbicara sebab bahasa menunjukkan bangsa.
5.    Penggunaaan ejaan dapat terlihat dalam bahasa tertulis.
6.    Unsur intonasi berperan sangat penting dalam bahasa lisan.
7.    Gunakan bahasa baku dalam  menyusun karya ilmiah
Makna bahasa pada kalimat di atas adalah:
1.    Budi bahasa: tingkah laku dan tutur kata;
2.    Tak tahu bahasa: tak tahu adat atau etika;
3.    Bahasa militer: cara militer;
4.    Bahsa menunjukkan bangsa: tutur kata yang teratur dan sopan menujukkan asal usul yang tinggi;
5.    Bahasa tertulis: ujaran tertulis;
6.    Bahasa lisan: ujaran lisan;
7.    Bahasa baku: ragam  bahasa yang ejaan, tata bahasa dan kosakatanya dijadikan norma pemakaian yang benar;
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri Harimukti Kridalaksana (1997).
Menurut Owen dalam Stiawan (2006:1), menjelaskan definisi bahasa yaitu language can be defined as a socially shared combinations of those symbols and rule governed combinations of those symbols (bahasa dapat didefenisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan).
                        Menurut Tarigan (1989:4), beliau memberikan dua definisi bahasa. Pertama, bahasa adalah suatu sistem yang sistematis. Kedua, bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka atau symbol-simbol arbitrer.

1)   Bahasa sebagai Sebuah Sistem
Bahasa adalah sebuah sistem. Artinya, bahasa itu bukanlah sejumlah unsur yang terkumpul secara tak beraturan melainkan sebaliknya. Bahasa adalah sejumlah unsur yang beraturan. Unsur-unsur bahasa itu diatur. Bahasa terbentuk oleh suatu aturan atau kaidah atau pola yang teratur dan berulang, baik dalam tata bunyi, tata bentuk kata maupun tata kalimat. Apabila aturan atau kaidah ini dilanggar maka komunikasi dapat terhambat. Contoh:
a.          Abdu memotong kambing dibelakang rumahnya
b.         Abdu dipotong kambing dibelakang rumahnya
c.          Aisah mencuci piring 3 jam yang lalu
d.         Aisah dicuci piring 3 jam yang lalu
e.          Dea mencuci pakaian
f.          Dea dicuci pakaian
g.         Erlita memasak daging
h.         Erlita dimasak daging
i.           Feni membuka jendela kamarnya
j.           Feni dibuka jendela kamarnya
Kalimat diatas yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia adalah :
a.         Abdu memotong kambing rumahnya
b.        Aisah mencuci piring 3 jam yang lalu
c.         Dea mencuci pakaian
d.        Erlita memasak daging
e.         Feni membuka jendela kamarnya
Alasannya, kalimat aktif menggunakan predikat dengan kata kerja berimbuhan me-. Dalam kalimat aktif, subjek (Abdu, Aisah, Dea, Erlita, dan Feni) menjadi pelaku, sedangkan objek (kambing, piring, pakaian, daging, dan jendela) menjadi sasaran perbuatan subjek.
Apabila kaidah ini dilanggar, misalnya dengan menggunakan awalan di- pada kata kerja sehingga hasilnya, “Abdu dipotong kambing, Aisah dicuci piring, Dea dicuci pakaian, Erlita dimasak daging dan Feni dibuka jendela”. Masyarakat tidak akan  menerima komunikasi terhambat. Itulah yang dimaksud bahasa sebagai sebuah sistem.
Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa tiap bahasa mempunyai atturan-aturannya sendiri yang menguasai hal-hal bunyi dan urutan-urutannya, kata-kata dan bentukan-bentukannya, hal-hal kalimat dan susunan-susunannya. Bahasa merupakan kumpulan aturan-aturan, kumpulan pola-pola, kumpulan kaidah-kaidah atau sistem. Demikianlah bahasa, sebagai sebuah sistem maka bahasa terbentuk oleh suatu aturan kaidah atau pola-pola tertentu, baik dalam bidang tata bunyi, tata bentuk, kata maupun tata kalimat. Apabila aturan, kaidah atau pola ini dilanggar maka komunikasi dapat terganggu.

2)   Bahasa sebagai Lambang
Lambang atau simbol sering digunakan oleh masyarakat untuk menginformasikan sesuatu. Manusia memang makhluk bersimbol. Dalam kehidupannya tidak terlepas dari lambing atau symbol. Lambang menandai sesuatu secara konvensional (dipelajari dan disepakati oleh para pemakainya), tidak secara alamiah dan langsung. Sebagai contoh, bendera kuning digunakan lambang adanya kematian, mengapa? Karena secara konvensional bendera kuning dijadikan tanda adanya kematian.
Warna merah melambangkan keberanian dan putih kesucian. Berbeda dengan warna merah pada lampu lalu lintas adalah lambang bahaya bagi pengemudi. Kartu merah pada permainan sepak bola melambangkan pelanggaran berat bagi pemainnya. Sama-sama merah, namun melambangkan hal yang berbeda, karena lambang bersifat arbiter, arbiter artinya tidak adanya hubungan langsung antara lambang dengan yang dilambangkannya.
Contoh: lambang bahasa yang berwujud bunyi (sapi) dalam bahasa Indonesia atau (cow) dalam bahasa inggris dengan rujukannya, yaitu seekor binatang berkaki empat yang banyak dimanfaatkan manusia, tidak ada hubungannya sama sekali. Demikian juga dengan lambang bahasa yang berwujud bunyi (membaca) atau (reading) dengan rujukannya, yaitu salah satu kegiatan mengamati tulisan untuk memahami artinya, tidak ada hubungannya sama sekali. Kita tidak member alasan mengapa dalam kelompok sosial tertentu binatang itu disebut sapi, sedangkan dalam kelompok yang lain disebut cow. Demikian pula kita tidak menjawab, mengapa membaca dalam kelompok sosial yang lain disebut reading. Alasannya adalah karena bahasa bersifat arbitrer atau manasuka.

3)   Bahasa Itu adalah Bunyi
Tidak semua  bunyi dapat digolongkan sebagai bahasa. Hanya bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia saja yang dapat digolongkan bahasa. Namun, tidak semua bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia dapat disebut bahasa. Batuk, bersin, misalnya bukanlah bahasa. Hanya bunyi berupa ujaranlah yang disebut bahasa. Huruf-huruf adalah turunan bunyi. Sifatnya pun arbitrer atau manasuka.

4)   Bahasa Itu Bermakna
Bahasa adalah sistem lambang yang berwujud bunyi atau bunyi ujar. Yang dilambangkan berwujud bunyi adalah suatu pengertian konsep, ide tau gagasan. Oleh karena lambang itu mengacu pada suatu pengertian konsep, idea atau gagasan maka dapat disimpulkan bahwa bahasa memiliki makna.
Contoh: lambang berwujud bunyi (bunga). Lambang ini mengacu pada konsep hasil tumbuh-tumbuhan yang memiliki aroma atau warna serta bentuk yang menarik. Lambang berwujud bunyi (menara) mengacu pada bangunan tinggi.
Lambang bunyi bahasa dapat bersifat konkret di alam nyata seperti bunga dan menara. Namun juga ada yang bersifat tidak konkret, seperti konsep adil, damai, sejahtera. Oleh karena itu bermakna maka segala ucapan yang tidak bermakna tidak dapat diklasifikasikan sebagai bahasa. Contoh: ungab, ilad, emaran, amaid. Kesimpulan: bentuk-bentuk bunyi yang tidak bermakna bukanlah bahasa sebab fungsi bahasa menyampaikan pesan, konsep, ide, atau pemikiran yang tentu saja mengandung makna.  

5)   Bahasa Itu Konvensional
Konvensi adalah kesepakatan atau perjanjian. Bahasa bersifat konvensional. Artinya, penggunaan lambang bunyi untuk suatu konsep tertentu berdasarkan kesepakatan antara masyarakat pemakai bahasa. Sebagai contoh, sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang secara arbitrer (manasuka) dilambangkan dengan bunyi (rumah). Semua anggota masyarakat pemakai bahasa ini harus mematuhinya. Apabila ada yang melanggar konvensi ini dengan menggantinya dengan lambang bunyi berbeda missal (mahru) maka komunikasi akan terhambat. Walaupun lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut bersifat konvensional.

6)   Bahasa Itu Produktif
Sebagai sistem dari unsur-unsur yang jumlahnya terbatas dapat dipakai secara tidak terbatas oleh pemakainya. Contoh:
dari fonem /n/a/k/i/ kita dapat membentuk kata:
/n/a/i/k/
/k/a/i/n/
/k/i/n/a
/i/k/a/n
Fonem /p/i/t/a/ dapat membentuk
/p/i/t/a/
/t/a/p/i/
/t/i/a/p/
/p/a/t/i/
Fonem /k/a/i/t/ dapat membentuk
/k/a/i/t/
/t/i//k/a/
/k/i/t/a/
/a/t/i/k/
Fonem /l/i/m/a/ dapat membentuk
/l/i/m/a/
/a/m/i/l/
/m/i/la/
/i//m/l/a/
Fonem /m/a/s/a dapat membentuk
/m/a/s/a/
/a/s/a/m/
/s/a/m/a/
/a/s/m/a/
Bahasa Indonesia mempunyai kurang dari 30 fonem. Namun, dari jumlah itu kita dapat menghasilkan 30.000 kata yang mengandung fonem tersebut. Demikian pula dari sudut penuturan bahasa Indonesia hanya mempunyai lima tipe kalimat, yakni pernyataan, pertanyaan, perintah, keinginan, dan seruan. Dari kelima tipe tersebut kita dapat menyusun kalimat bahasa Indonesia yang jumlahnya ribuan.

7)   Bahasa  untuk Mengidentifikasi Diri
Orang Melayu mengenal pepatah “Bahasa menunjukkan bangsa”. Bahasa merupakan ciri pembeda yang paling menonjol di antara cirri budaya. Oleh karena dengan bahasa tiap kelompok sosial merasa diri sebagai satu kesatuan yang berbeda dengan kelompok lain. Contoh bahasa Cina adalah lambang sosial yang ditandai oleh satu sistem tulisan yang mengikat jutaan manusia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan berbagai bahasa yang cukup jauh perbedaannya.  

2.      CIRI BAHASA MANUSIA
Bahasa digunakan manusia sebagai alat komunikasi. Sebagai alat komunikasi bahasa mencakup dua hal, yakni isyarat bermakna dan bunyi. Oleh karena hewan juga memiliki gerak-gerik bermakna dan mengeluarkan bunyi atau suara maka dipermasalahkan apakah hewan seperti manusia juga, yakni memiliki bahasa. Kita sering menddengar anjing menyalak yang mengisyaratkan adanya bahaya, kucing mengeong ketika lapar mencari mangsa, dan ayam betina berkeok-keok ketika akan bertelur. Burung gereja menggunakan siulan dengan nada tertentu untuk menyatakan maksud tertentu. Namun, hanya pada manusia ditemukan komunikasi verbal yang unik.


Bahasa Manusia Memiliki Tujuh Ciri
Pertama, bahasa  manusia memiliki sistem terpisah, namun saling terkait, baik pada tata bunyi, tata bahasa maupun isyarat. Bahasa Indonesia memiliki hampir 30 fonem. Dari fonem yang jumlahnya terbatas itu dapat menghasilkan kata-kata yang jumlahnya puluhan ribu. Dari kata-kata tersebut dapat dibentuk kalimat-kalimat yang tidak terbatas jumlahnya. Fonem, morfem, kata, frase, klausa, kalimat, wacana merupakan sistem yang terpisah. Namun, dalam penerapannya masing-masing satuan bahasa itu saling terkait.
Kedua, bahasa manusia memungkinkan terkomunikasinya hal-hal baru. Satuan komunikasi yang dimiliki binatang bersifat tetap,,  binatang tidak dapat menyampaikan konsep baru dengan alat komunikasinya. Kecakapan binatang mengungkapkan isyarat melalui bunyi maupun gerak-gerik adalah hasil latihan yang berulang. Contoh: seekor burung beo dapat mengucapkan selamat pagi karena hasil latihan yang berulang. Burung ini tidak dapat memperluas ucapan selamat pagi dengan pemikirannya sendiri. Sampai kapan pun hanya ucapan selamat pagi yang dapat diungkapkan burung ini. Kemampuannya bersifat tetap, binatang tidak dapat menghasilkan ide baru komunikasikan hal-hal baru, kucing akan mengeong selamanya. Anjing akan menyalak sampai kapan pun. Bunyi binatang tidak memungkinkan terkomunikasinya hal-hal baru.
Berbeda dengan manusia. Manusia dapat membuat gagasan baru yang belum pernah ada sebelumnya dengan bahasanya. Manusia pun dapat menggunakan bahasanya untuk mengkomunikasikan gagasan baru tersebut. Satuan-satuan bahasa manusia memungkinkan hal itu. Bahasa manusia dapat menyampaikan ide-ide baru, konsep-konsep dan gagasan-gagasan baru. Contoh: kecakapan seorang anak membuat kalimat yang bertambah seiring dengan pertumbuhannya dari hari ke hari. Hari pertama, anak sekolah mungkin ia hanya memiliki gagasan yang sederhana.
Contoh lain:
a)    Saya sekolah. Ibu di kantor.
Seiring dengan bertambahnya usia anak maka gagasan baru bermunculan Bahasa manusia memungkinkan ia mengungkapkann gagasan baru tersebut. Kalimat produksi anak pun bertambah dan meluas.
Saya belajar di sekolah.
Ibu bekerja di kantor.
Sejalan dengan berkembangnya kemampuan berbahasa, mereka mulai menggunakan kata sambung untuk memperluas kalimat.
Saya belajar di sekolah dan ibu bekerja di kantor.
b)   Eka belajar. Dini mennyiram
Eka belajar di sekolah
Dini menyiram bunga di taman
Eka belajar di sekolah dan Dini menyiram bunga di taman
Ketiga, manusia membedakan antara isi pesan yang  dikomunikasikan dan label yang mewakili isi pesan. Isi pesan yang dikomunikasikan dalam bahasa manusia dapat berwujud ucapan (lisan) dan dapat berwujud tulisan. Tulisan merupakan label (lambang) yang mewakili isi pesan.
Keempat, dalam komunikasi manusia, bahasa lisan dapat dipertukarkaan dengan makna yang didengar. Bahasa merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Namun, hanya bunyi yang bermakna sajalah yang digolongkan sebagai bahasa. Hanya lisan yang merujuk pada makna sajalah yang tergolong pada bahasa. Makna tersebut dapat berupa benda,proses atau kegiatan ataupun konsep. Itulah ciri bahasa manusia.
Kelima, bahasa bukan diturunkan melainkan dipelajari. Bahasa dapat digunakan untuk menyatakan ekspresi diri, sebagai alat komunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial dan sebagai alat komunikasi (Gorys Keraf. 1980: 3. Komposisi. Flores; Nusa Indah).
Keenam, sesuatu yang diutarakan dapat merujuk kemasa lampau dari masa yang akan datang. Sesuatu yang dikemukakan dengan bahasa dapat merujuk kewaktu tertentu. Hal ini sesuai dengan keperluan orang yang menggunakan bahasa. Semua bahasa pasti memiliki bentuk atau kosa katayang dapat difungsikan untuk merujuk kemasa tertentu. Berbeda dengan isyarat yang terbatas digunakan untuk waktu sesaat saja, yakni pada saat isyarat itu digunakan. Misalnya, bunyi sinyal pintu kereta api tentu merujuk untuk waktusaat itu juga ketika kereta akan lewat. Isyarat tidak dapat digunakan untuk mengutarakan sesuatu yang merujuk kemasa lampau dan masa yang akan datang.
Ketujuh, bahasa manusia dipelajari anak-anak dari orang dewasa dan generasi ke generasi. Bahasa bukan diturunkan melainkan dipelajari. Kecakapan bahasa tidak mungkin datang begitu saja. Ada faktor pendorong yang menyebabkan manusia merasa perlu mempelajarinya, yakni faktor pendorong dari dalam dan dari luar. Pendorong dari dalam adalah kebutuhan untuk mengemukakan perasaan, pikiran dan keinginan. Hal ini mendorong anda untuk belajar bahasa. Pendorong dari luar, misalnya faktor kebutuhan akan eksitensi diri ditengah masyarakat. Anda ditengah masyarakat yang menggunakan bahasa yang sama dengan bahasa yang anda gunakan pasti merasa lebih nyaman, lebih percaya diri.








DAFTAR PUSTAKA

1.      Rosdiana, Yusi. 2009. Bahasa dan sastra Indonesia di SD. Jakarta: Universitas Terbuka
2.      Guntur, Henry. Pengajaran Kompetensi Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa. 1989.
3.      Mackey, W.F. Analisis Bahasa. Surabaya: Usaha Nasional. 1986.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar